Rabu, 12 Juni 2013

Awal Deket (Vers. Padh)

Sama dengan postingan Niko sebelumnya, postingan kali ini akan membahas tentang asal mula KKA bisa menjadi sedeket ini. Well, semua itu bermula pada suatu ruangan 4.5 x 6 m yang disebut X-threeM.

Pertama orang yang gue kenal di KKA ya Lolak, bahkan kami bersahabat sebelum KKA dibentuk. Tapi sayangnya tiga hari pertama sekolah dia malah ga masuk dan meninggalkan gue sendirian. -__-
Lalu Inaes, gue sama Inaes dan Lolak satu SMP, jadi kami sudah mengenal pribadi dan mengetahui perasaan cinta -persahabatan- antara satu sama lain. #eyaaaaa

Berbeda dengan Niko yang sudah saling mengenal sejak MOS, gue sama sekali ga akrab dengan anggota KKA yang lain. Cerita berawal dari Awal masuk sekolah, seusai upacara, gue dan 213 murid baru di SMA Negeri 6 mencari nama-nama kami yang ditempel di sebuah kertas di depan kelas untuk menentukan kelas mana yang akan kami hinggapi selama setahun kedepan. Cacatnya gue, orang nyari kelas rata-rata dari kelas yang paling awal, yaitu X.1. Sedangkan gue dari X.7. Feeling gue bilang, gue bakal masuk situ tapi nyatanya nama gue ga ada, yang ada malah Sasha. Akhirnya kami masuk, lalu mengobrol dengan anak kelas x.7 yang lain. Di X.7 itu sangat amat asik, baru masuk saja mereka sudah bisa mengobrol layaknya orang yang sudah kenal lama. Karena itu gue sempat melupakan kewajiban gue untuk mencari kelas gue sendiri. -___-

Setelah di ingatkan orang -ga tau apa jadinya kalo ga diingatkan-, gue-pun mencari kelas gue. Dan hasilnya  yang gue tau saat itu cuma gue di X.3 bersama Lolak dan Inaes. Karena Lolak ga masuk, gue meletakan -dengan sedikit membanting- tas gue di meja belakang. Gue duduk, gue sms Lolak "Lak, kita sekelas tapi disini ga ada yang gue kenal." Gue liat lagi sekeliling, dan bener, ga ada yang gue kenal. Inaes juga ga ada saat itu. Damn! Gue bakal menghabiskan tiga hari di kelas baru tanpa ada yang gue kenal?

Dari tempat duduk gue, gue noleh ke kanan. Ada satu cewek manis yang duduk sendirian (baca: Vani), "Apa gue duduk disana aja?" dalem hati gue mikir gitu. Tapi ga gue lakuin. Gue masih pengen idup bro (baca: Lolak) -__- Gue ngobrol sama Vani, yang gue rasain saat itu, nih cewek manis, terus suaranya lembut banget ya, kenapa gue dulu mikir gitu -____-

Gue sempet galau saat itu, gue pengen dapet kelas kayak X.7, isinya orang yang gue kenal kebanyakan. Pasti asik. Tapi malah dapet kelas yang isi satu kelasnya gue ga kenal. Galau gila -__- Bagusnya, disaat itu gue kenalan sama seorang cowok, but forget about him, he's not the best part of my life again.

Lanjut ke KKA, gue noleh ke kiri, ada empat cewek yang sepertinya asik buat di deketin. Gue lewat di depan mereka, dan pas mau kenalan, gue liat ekspresi wajah dua diantara empat cewek itu sangat amat seram (baca: Niko & Paul). Ntah mereka lagi kesel atau gimana tapi gue yang masih unyu-unyu pada saat itu masih belum mau mengakhiri hidup.

Pada saat Lolak sudah sembuh dan sekolah disitulah gue semangat untuk sekolah. Gue mulai ada rasa ini kelas gue, bagaimanapun keadaannya. Not bad kok, mungkin karena gue belum kenal mereka aja.

Suatu hari, ada pembagian kelompok yang harus dilakukan sendiri. Gue paling malesnya gini nih, kalo udah bagi kelompok. Gimana mau nyari kelompok kalo ga kenal?
Tapi tanpa harus mencari, ada dua orang yang datang ke meja kami dan mengatakan ingin sekolompok. Setelah gue cium mereka berdua lalu kami lalu mengerjakan tugas biologi tersebut dirumah gue. Setelah itu kami jadi akrab, dan salah satu diantara dua orang itu adalah Gul.

Di hari yang lain, gue remidi kimia, nilai gue cuma sepuluh. Sepuluh ya, bukan seratus. Nah, disaat itu bu Lumongga nyuruh Dwivie ngajarin gue. Di hari Minggu yang seharusnya bisa gue isi dengan main game, gue malah diharuskan belajar kimia seharian. Sebenernya gue ga mau, tapi Bu Lumongga bilang "Kalau ulangan sekali lagi masih remidi, bukan kamu yang akan saya hukum tapi teman kamu yang sudah saya suruh untuk mengajarkan kamu." Damn. Karena ingin menyelamatkan Dwipi dari walikelas kami yang baik hati, gue belajar mati-matian supaya tidak remed (lagi). Lagipula saat itu gue jadi lebih kenal sama dwipi dan disaat itu gue tau, she's a good friend.

Karena keterbatasan gue dalam menjaga barang, seperti tip-ex, pena, pensil, pengapus, bahkan remi yang gue bawa ke sekolah. Gue lebih suka meminjam dan tempat gue meminjam adalah Indah dan Nenek Rizka. Dua cewek mungil yang dari raut wajahnya juga udah wellcome ini buat gue ga pernah segan buat minta bantuan mereka. Mereka itu baik banget. Yang gue rasakan saat itu adalah tatapan seram dari dua orang dibelakan Indah dan Nenek, Niko dan Paul "Mereka kenapa ya?" Pikir gue saat itu.
Akhirnya gue coba minjem barang juga sama mereka dan mereka wellcome juga. Agak shock juga sih hahaha awalnya gue kira Niko sama Paul itu serem abis, ternyata kebalikannya. Kocak. Buat gue ngakak terus.

Setelah itu baru kami mulai saling mengenal satu sama lain, kami main remi. Well, menurut gue, remi itu mempunyai pengaruh 70% dalam penyatuan KKA. Terus main kerumah anggota KKA secara bergantian, perayaan ultah kecil-kecilan, dan semua kisah unforgettable yang telah kami lalui.
Ada yang haru, ada yang lucu, ada yang galau, ada yang happy-happy, banyak pokoknya.
Kenangan yang ga bakal hilang dari pikiran gue.

Terakhir. Walaupun nanti -mungkin- ada saatnya kita sudah kuliah, beda jurusan dan sibuk pada urusan masing-masing tapi gue harap persahabatan kita ini untuk selamanya, sahabat :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

cari-cari..

 

KKA's generation Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting